Hipnoterapi Untuk Anak – Hub. 0853.3432.3888

Hipnoterapi Untuk Anak – Hub. 0853.3432.3888

ANAK BERMASALAH, MENGAPA? DAN SALAH SIAPA?

Mari kita simak testimoni seorang ibu terhadap permasalahan psikis putra – putrinya…

Sahabat Indonesia dan Orang Tua HEBAT Indonesia….

Hipnoterapi Untuk Anak kerap kali dilakukan untuk mencerdaskan anak kita, akan tetapi banyak orang tua yang tidak mau mengikuti proses…. kenapa hal ini bisa terjadi, berikut adalah artikel yang luar biasa dari salah satu rekan saya di THE INDONESIAN BOARD OF HYPNOTHERAPY…

(Tinjauan Psikologi Komunitas) Oleh: Wahyu Dwi Deniawan, S.Pd., M.Si.Wahyu
Saya awali tulisan ini dengan melihat lebih dekat fenomena yang terjadi disekeliling kita, sebagai berikut:

  1. Anak lebih senang berlama-lama di warnet atau facebook -an (FB) dari pada duduk bersama keluarga tercinta di rumah
  2. Sifulana selalu berkelahi dengan temannya di sekolah, berbicara tidak sopan (bahasa jawa: meso) dan tidak pernah mengerjakan tugas dari guru kelasnya
  3. Sebagian orangtua pusing dan bahkan stress karena anaknya yang bernama Markonah suka marah dan tidak mau mendengar apa yang dikatakan orangtuanya
  4. Anak suka murung dan tidak mau sekolah akhirnya mogok sekolah
  5. Anak suka sekali bermain game on line dari pada belajar pelajaran sekolah, bahkan keras kepala jika dinasehati orangtuanya
  6. Anak senang dan mempunyai kebiasaan mengambil barang milik orang lain tanpa izin baik di sekolah maupun di rumahnya.

 Sebelum berbicara tentang anak yang bermasalah dan bagaimana solusinya, saya mencoba memaparkan mengenai pengertian anak dari beberapa sumber. Kita tahu bahwa anak merupakan individu baru yang masih polos dan bersih, sudah barang tentu lingkungan dimana anak itu tinggal yang akan menggoreskan tinta kehidupan sehingga anak itu menjadi apa dan seperti apa kelak dewasanya.

Seorang ahli bernama Froebel (Roopnaire, J.L & Johnson, J.E., 1993) mengungkapkan bahwa masa anak merupakan suatu fase yang sangat penting dan berharga, dan merupakan masa pembentukan dalam periode kehidupan manusia. Oleh karenanya masa anak sering dipandang sebagai masa emas (golden age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Masa anak merupakan fase yang sangat fundamental bagi perkembangan individu karena pada fase inilah terjadinya peluang yang sangat besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang. Menurut Froebel, jika orang dewasa mampu menyediakan suatu “taman” yang dirancang sesuai dengan potensi dan bawaan anak, maka anak akan berkembang secara wajar.

Coba kita cermati tulisan Syaikh Muhammad Said Mursi dalam bukunya :
Seni Mendidik Anak 2 (2004:366) sebagai berikut……………………………………..

Ayah dan Ibu! Saya adalah amanah yang dititipkan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada kalian berdua. Jiwa saya yang masih bersih adalah ibarat materi berharga dan kosong yang siap menerima segala pahatan dan gambar. Jiwa saya yang bersih itu menerima segala pahatan dan condong pada segala yang dicondongi orang. Jika ia dibiasakan kebaikan, maka ia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagia di dunia serta akhirat. Kalian berdua serta setiap orang yang mendidik dan mengajar saya akan menerima pahala kebaikan itu bersama saya. Jika ia ditelantarkan sebagaimana hewan, maka ia akan menderita dan celaka. Akibatnya, kalian menanggung dosa.

Dari pemaparan tersebut diatas terdapat pertanyaan kunci yaitu : mengapa anak kita bermasalah? Dan siapa yang salah?. Tentu saja apabila anak panah masalah ini dibidikkan dan lepas dari busurnya, maka semua pihak kemungkinan tidak mau menerima atau dengan kata lain tidak mau disalahkan.

 Menurut pemahaman saya adalah solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah anak yaitu dengan bekerjasama bahu membahu dari semua pihak yang bersangkutan dengan tidak saling melemparkan bola masalah atau tidak saling menyalahkan.

Kita ambil contoh fenomena ke dua tersebut di atas yaitu Sifulana selalu berkelahi dengan temannya di sekolah, berbicara tidak sopan (bahasa jawa: meso) dan tidak pernah mengerjakan tugas dari guru kelasnya. Dalam menangani kasus ini tidak mudah, untuk itu perlu analisis serta mencermati lebih dekat akar permasalahan yang ada. Apabila kita tinjau dari segi psikologi komunitas, maka permasalahan anak tidak hanya bersumber pada anak itu sendiri, tetapi melihat serta menganalisa espek sosial dimana anak itu tinggal.

 Aspek sosial dimaksud adalah terdiri dari tiga komponen yaitu orang tua (rumah tempat tinggal anak), masyarakat disekitar rumah (budaya serta kebiasaan perilaku masyarakat yang muncul) dan sekolah (tempat anak belajar).

Pertama, orangtua si anak, seperti apa pesan moral yang diberikan pada anak? apabila dilingkungan keluarga mendidik dengan hal yang buruk, maka anak juga akan ikut buruk moral serta perangainya. Sebaliknya apabila orangtua mendidik anak dengan kebaikan dan penuh kasih sayang, maka anak menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

 Kedua, masyarakat disekitar anak, masyarakat muslim mempunyai tata krama dan tradisi yang harus dijadikan sebagai habitat tempat tumbuh kembangnya anak muslim. Oleh karena itu anak muslim harus bisa memberikan pengaruh bukannya terpengaruh. Jangan sampai anak kita terpengaruh dengan tradisi dan akhlak buruk yang ada di dalam masyarakat. Kita sebagai orangtua harus mengarahkan anak kita dalam memilih teman, karena seseorang itu akan terpengaruh oleh akhlak temannya.

 Ketiga, sekolah tempat anak belajar, mengutip dari tulisan Syaikh Muhammad Said Mursi berbunyi bahwa, guru harus mencintai dan dicintai; mencintai murid-muridnya, selalu dekat dengan mereka, sederhana dalam bicara dan rendah hati, bergurau dan bermain bersama anak-anak, berlaku lunak tetapi tegas, selalu memberi tanpa pamrih, dan murah senyum. Guru yang keras dan tidak kenal kasih sayang bukanlah guru yang ideal. Guru seperti ini menjadi “momok” yang menakutkan bagi anak didik. Mengenai bagaimana anak tidak berkata buruk, berarti kita lebih banyak mengintropeksi diri apakah kita sebagai orang dewasa juga pernah berkata buruk? Atau orang dewasa disekitar tempat tinggal anak juga berkata buruk? Berikan bekal sejak dini kepada anak dengan kata-kata yang baik dan sopan.

Dengan demikian untuk merubah suatu perilaku pada anak, salah satu cara yaitu dengan melihat ketiga komponen tersebut (orangtua, masyarakat dan sekolah) dengan kata lain jangan ada ketimpangan dari ketiga komponen tersebut. Misal, di sekolah dan dikeluarga sudah berjuang mendidik anak menjadi baik akan tetapi di lingkungan masyarakat belum bisa memberikan contoh dan suri tauladan yang baik sebaliknya demikian, maka perubahan pada anak juga tidak terwujud seperti yang diharapkan. Dengan demikian perlu saling mendukung dan saling melengkapi dengan kebaikan sesuai harapan orangtua dan semua komponen yang terlibat. Untuk mengakhiri tulisan ini, saya coba paparkan suatu kalimat yang dikutip dari dua sumber yaitu;

  1. Memarahi sang anak dapat berpengaruh positif bagi upaya memperbaiki kenakalannya. Namun kemarahan yang berlebihan akan menjadikan kenakalan sang anak kian menjadi-jadi dan sifat keras kepalanya akan semakin kuat (Dr. Ali Qaimi;62).
  2.  Imam Abu Hamid Al-Ghazali mengatakan, “selepas dari madrasah tahfizh, anak harus diijinkan bermain untuk memberi kesempatan pada anak melepas kelelahan belajar. Tindakan melarang anak bermain dan memaksanya belajar terus menyebabkan hatinya mati, hilang kecerdasannya, hidup terasa berat baginya, sehingga anak berusaha mencari jalan keluarnya sendiri (Syaikh Muhammad Said Mursi;514).

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya mencoba mengingatkan kepada pembaca, terutama orangtua yang mempunyai putra maupun putri untuk sekiranya menjaga serta melimpahkan kasih sayang anda sepenuhnya dalam membimbing serta mendidik anak anda. Cobalah dengan melihat dan mempelajari lingkungan sekitar lebih dekat demi proses kehidupan anak-anak yang lebih baik sesuai keinginan anda sebagai orangtua. Ciptakan waktu luang untuk bersama bersenda gurau dan saling curhat melalui komunikasi yang baik di dalam lingkungan keluarga sehingga keharmonisan keluarga semakin terasa. Penulis berdoa, semoga kita yang memiliki keluarga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, amin. Bagi anda yang menjadi anak, berikanlah yang terbaik serta berbaktilah kepada kedua orangtua anda dan sayangilah mereka seperti halnya mereka menyangi anda sewaktu kecil, bagi anda yang belum mendapatkan kasih sayang diwaktu kecil sepenuhnya, tetaplah berpegang teguh pada agama Allah SWT yaitu Islam. Yakinlah bahwa Allah SWT mempunyai rencana yang terbaik untuk kehidupan anda. Subhaanallaah..

Disadur dari :
(Tinjauan Psikologi Komunitas) Oleh: Wahyu Dwi Deniawan, S.Pd., M.Si.Wahyu

Silakan kunjungi situsnya :
www.yuwardi.com

untuk informasi selengkapnya dan membuat janji registrasi silahkan hubungi staf kami pada jam kerja :

  • Flexi. (031) 3487.3888
  • Telkomsel Kartu AS 0853.3432.3888

PERUM SUTOREJO INDAH
JL. SUTOREJO TIMUR Gg.10 No.04, BLOK VV-19 SURABAYA
(Daerah ITS – Mulyosari – Kenjeran) – Surabaya Timur
jawa timur – INDONESIA

Leave a Reply